Tidak bisa disangkal, siapapun orangnya, tua, muda, miskin, kaya, pendidikan tinggi atau rendah, di kota atau di desa, semua kalau ditanya : "apakah anda perlu teman?", pasti menjawab dengan kompak, "tentu saja kita perlu teman?
Masalahnya teman seperti apa yang kita inginkan? Tentu kita menginginkan teman yang menyenangkan, terutatama pada saat kita sedang mengalami kesulitan, kita merindukan punya teman minimal yang peduli dengan kita, ikut merasakan apa yang kita rasakan dan mau menjadi tempat untuk mengadu atau curhat.
Berarti, pertama jika kita ingin menjadi teman yang menyenangkan kita harus siap untuk menjadi pendengar yang baik. Bukan teman yang langsung 'nyerocos' memberikan nasihat. Apalagi malah menyalahkan kita, tanpa mau tahu apa permasalahan yang sedang dihadapi temannya. Banyak orang menjadi lebih pintar menasihati jika melihat kesalahan orang lain, "kamu sih kenapa begitu, coba kalau tidak begitu pasti kamu tidak begini jadinya."
Percayalah jika seseorang terkena musibah akibat kelalaiannya, tanpa perlu dikomentari apa-apa, apalagi dipersalahkan orang itu dengan sendirinya sudah merasa bersalah dan dia sangat menderita sekali. Jadi dengan mempersalahkan teman yang sedang bersusah hati karena kesalahannya sendiri kita harus menjadi teman yang bijaksana. Pertama harus mau mendengar apa permasalahannya dan mencari tahu dari sumber-sumber lain yang lebih ahli dalam permasalahan itu untuk menolong teman kita. Intinya kita harus punya empati dan keinginan untuk menolong teman kita.
Karena dengan kita mempersalahkan teman kita atas kesalahannya tidak akan menyeselaikan permasalahan yang timbul akibat kelalainnya, misal teman kita meninggalkan dapur dengan kompor menyala, karena sedang menghangatkan sayur, pada saat dia kembali ke rumah, rumahnya sudah terbakar, atau kebakaran, apakah kita dapat menolongnya hanya dengan menyalahkan dia akibat kelalainnya. Toh sudah terjadi. Berapapun banyaknya naeshat kita tak akan berguna. Yang diperlukan pertama adalah menghibur teman kita dan menguatkan hatinya. Agar dia punya semangat untuk membangun kembali rumahnya yang habis terbakar.
Menjadi teman yang baik, belum cukup jika kita hanya mau menjadi tempat curhat saja, tetapi juga mau berkorban watu, tenaga, perhatian dan juga rela memberikan miliknya untuk menolong teman kita yang sedang kesusahan.
Terkadang memang ada orang yang ketika ditolong menjadi tergantung sekali pada orang yang menolongnya. Sekali ditolong ingin terus menerus ditolong. Jika sekali saja orang tidak bisa menolongnya dia akan marah-marah dan menjelekan orang yang dia mintai tolong. Inilah susahnya. Ditolong salah, tidak ditolong juga salah.
Saran saya, tolonglah teman kita yang sedang kesusahan dengan segala kemampuan kita, pertama memang harus memberikan materi pada permulaannya, tetapi harus diiringi dengan bimbingan agar orang yang kita tolong agar mampu berdiri sendiri. Terkadang kita baru menolong sedikit tapi sudah kita tinggalkan, belum saja dia bangkit, sudah kita suruh dia berlari, karena kita tidak mau disusahkan lagi besok, pokoknya kita sudah tolong dia, dia harus usaha dong, jangan tergantung terus pada kita.
Pertanyaanya: apakah pertolongan kita sudah memberdayakan orang yang kita tolong? Kalau jawabannya sudah dengan segala cara dan seringkali kita tolong dia tidak ada perubahan dan malah membuat dia menjadikan kita atm dan terus menerus minta tolong tanpa ada usaha lebih lanjut untuk mengatasi persoalannya.
Ajarkan Firman Tuhan. Agar imannya bertumbuh dan alihkan ketergantungannya pada manusia pada ketergantungannya pada Tuhan. Jangan tinggalkan dia jatuh lagi terpuruk, terus bimbing dia agar dia bangkit, berikan bantuan materi secara terukur agar dia bisa lebih bergantung pada Tuhan bukan pada manusia.
Karena biasanya orang lebih mudah memberikan bantuan materi, karena menilai bantuan materilah yang utama dan memang memberikan bantuan materi adalah cara yang paling mudah membantu orang. Padahal bantuan materi pada awal memang sangat diperlukan. Tapi selanjutnya kita harus mengajarkan dia untuk mencari nafkah. Banyak orang bilang jangan berikan ikannya, tapi berikan kailnya. Itu benar. Pertama berikan ikannya karena pada waktu kita menemuinya dia dalam keadaan lapar, kedua berikan kailnya, tapi jangan lupa ajarkan dia juga menggunakan kailnya agar dia mahir menangkap ikan. Seringkali kita lupa pada saat memberikan kail, langsung meninggalkan teman kita yang terbingung-bingung bagaimana cara menggunakannya karena dia dia tidak pernah tahu cara untuk menangkap ikan dengan kail itu. Temanin, ajar dia langsung praktek tujunjuka caranya dan tempat yang baik untuk menangkap ikan agar dia bisa menangkap ikan. Percayalah kawan. Bilamana teman kita sudah melihat dan sudah berhasil menangkap ikan, lihatlah kegirangan kita tidak terkira, ketika kita menyaksikan orang yang tadinya menangis dan tak berdaya sekarang bisa berteiak kegirangan karena dia berhasil menjadi penangkap ikan yang handal. Bukankah kita akan berbangga akan keberhasilan teman kita?
Saya yakin teman-teman pembaca pasti punya cerita masing-masing dari pengalaman teman-teman sendiri atau dari pengalaman oran lain, alangkah baiknya anda bagikan pengalaman anda itu sehingga bisa menjadi bahan pelajaran yang berguna bagi kita semua.